Tingkatkan SDM Pertanian, Widyaiswara BBPP Kementan Dalami Proses Industri Gula
Takalar, Sulawesi Selatan - Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan pemahaman praktis di bidang industri pertanian, Widyaiswara dan petugas teknis Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku mengikuti kegiatan magang tebu di Pabrik Gula Takalar milik PT. Sinergi Gula Nusantara selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 April 2026.
Pentingnya peningkatan kapasitas SDM pertanian ini juga sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menegaskan bahwa produk pertanian mampu masuk pasar global dengan akses yang lebih adil dan kompetitif.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguatan peran Widyaiswara menjadi kunci dalam mencetak SDM pertanian unggul.
"Widyaiswara adalah agen perubahan. Melalui kegiatan magang seperti ini, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktek lapangan dari hulu hingga hilir. Ini penting agar pelatihan yang diberikan kepada petani benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan," sebutnya.
Secara terpisah, Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani, mengatakan Widyaiswara sebagai tenaga pelatih di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelatihan Pertanian memiliki peran strategis meningkatkan kompetensi para pekebun sehingga perlu terlebih dahulu dibekali dengan kompetensi teknis yang mumpuni di bidang perkebunan.
Kegiatan magang ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam memahami proses pengolahan tebu menjadi gula secara langsung di lapangan. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari alur produksi mulai dari penerimaan bahan baku, proses penggilingan, pemurnian, hingga tahap akhir produksi gula.
Selain itu, peserta juga memperoleh wawasan terkait manajemen operasional pabrik, pengendalian mutu, serta penerapan teknologi dalam industri gula. Hal ini diharapkan dapat menjadi bekal dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan di BBPP Batangkaluku, terutama dalam mendukung pengembangan sektor perkebunan tebu dan industri turunannya.
Salah satu peserta magang, Risna Ardhayanti mengungkapkan pengalaman yang ia peroleh yang dapat diadopsi dalam pelatihan di BBPP Batangkaluku.
"Praktik baru yang dapat dapat diadopsi oleh rekan-rekan widyaiswara dalam materi pembelajaran adalah pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama penggerek batang dan penggerek pucuk dengan menggunakan trichograma sp.," jelas Widyaiswara Madya tersebut.
Menurutnya, pengenalan industri gula penting karena menambah wawasan bagi widyaiswara terkait alur dan proses industri gula, mulai dari tahap penyiapan bibit, penanaman tebu, penanganan panen, pengangkutan tebu, penyiapan instalasi, penyiapan sumber energi untuk proses penggilingan, proses penggilingan, dan proses pengolahan hingga penyimpanan gula.
Lanjut Risna, hal yang paling berkesan yaitu widyaiswara menjadi paham bagaimana perlunya sinergi antara pabrik gula dengan pihak yang melakukan pertanaman tebu yaitu petani dan perusahaan sehingga tebu dapat tersedia tepat waktu, tepat jumlah dan tepat umur saat pabrik gula akan melakukan penggilingan tebu menjadi gula.
"Jadi waktu penyiapan bibit tebu dan penanaman tebu itu tdk dapat dilakukan asal-asalan tapi perlu dihitung mundur sesuai waktu penggilingan tebu," jelasnya.
(Red/*)
[TimHumasBBPP_Batangkaluku]