Hilirisasi, UPT Kementan Dorong UMKM Tingkatkan Pendapatan Produk Kakao Olahan Bernilai Tinggi
BBPP Batangkaluku, Gowa - Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kakao terus dilakukan Kementerian Pertanian RI (Kementan) bagi pelaku usaha, di antaranya melalui kegiatan Bertani On Cloud (BoC) bertema ´Hilirisasi Kakao: Strategi Produksi dan Pemasaran Produk Olahan Kakao Skala UMKM´ yang digelar oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan pada Kamis (12/3).
Kegiatan yang digelar oleh BBPP Batangkaluku tersebut membahas tentang strategi pengolahan kakao menjadi berbagai produk bernilai tambah serta teknik pemasaran yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Upaya BBPP Batangkaluku sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa pembangunan sektor pertanian saat ini diarahkan pada hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah komoditas serta kesejahteraan petani.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa peningkatan kualitas hasil pertanian dan kesejahteraan petani sangat berkaitan dengan pengolahan hasil pertanian.
“Kualitas produk pertanian dan peningkatan ekonomi petani sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengolah hasil pertanian sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi,” katanya.
BBPP Batangkaluku
Kegiatan BoC dibuka oleh Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti diwakili Kepala BBPP Batangkaluku Jamaluddin Al Afgani. Dalam sambutannya, dia menilai tema hilirisasi kakao sangat relevan untuk mendorong peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan di Indonesia.
"Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia, namun produk cokelat yang beredar di pasar domestik masih didominasi oleh produk impor," katanya.
Kakao merupakan komoditas perkebunan yang melimpah di Indonesia, ungkap Jamaluddin Al Afgani, namun produk cokelat yang beredar di pasaran sebagian besar dari luar negeri, maka hal itu menjadi peluang meningkatkan nilai tambah kakao dari tingkat petani hingga seluruh rantai pasok.
Dia menambahkan, pengembangan hilirisasi kakao melalui skala UMKM merupakan langkah strategis. Dengan teknologi yang relatif sederhana, kakao hasil produksi petani dapat diolah menjadi berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
"Melalui kegiatan BoC, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di daerah masing-masing sehingga peningkatan nilai tambah kakao dapat berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha," ungkap Jamaluddin Al Afgani.
Narasumber BoC
Pengembangan produk olahan kakao dalam negeri juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk cokelat impor sekaligus memperkuat daya saing kakao Indonesia di pasar domestik maupun global.
Dalam kesempatan tersebut, Irwan Miri, Owner Makassar Chocolate, sebagai narasumber juga membagikan strategi agar produk kakao olahan mampu bersaing di pasaran.
Menurutnya, pelaku usaha perlu menghadirkan kemasan yang variatif dari segi ukuran maupun bentuk. Selain itu, inovasi produk juga perlu dilakukan secara berkala, misalnya dengan menghadirkan produk baru setiap tiga bulan.
“Pelaku usaha juga perlu menyediakan pilihan volume produk dalam ukuran kecil, menengah, dan besar, serta didukung oleh tim produksi dan pemasaran yang profesional,” kata Irwan Miri.
(Red/*)
Artikel terkait = kepopedia.co.id